“Le.., mbesuk kalau kamu punya istri janganlah seorang wanita. Tapi carilah istri seorang perempuan. Ndak usah yang cantik, tapi yang memenuhi target dan standar. Kaya simbok ini.”
Begitulah pesan simbok sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang paling akhir. Sebelum beliau pergi “sowan” menghadap Illahi.
Perempuan. Simbok memang lebih suka sebutan perempuan daripada wanita. Katanya sebutan wanita itu kurang pas dan trep. Lain dengan perempuan. Lain daripada itu simbok juga punya argumen yang lebih sip. Katanya, ada sebutan WTS yang sangat merusak dan menurunkan derajat serta moral umat. Sebutan yang sangat jelas di benci orang…. disukai…???? Menjijikkan. Sedangkan perempuan sebutannya lebuh hebat dan sudah mendapat ijin pemerintah pusat. Depdikbud (kala itu) lagi. Apa enggak hebat ??? PTS. Sebutan yang sangat baik dan berguna bagi orang-orang yang kurang beruntung. Bagi mereka yang tidak dapat masuk PTN (Perguruan Tinggi Negri), ya… masuk saja ke perguruan yang berada di luar negri ini. PTS.
Pesan simbok itu sampai saat ini masih saja teringat dalam benakku. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan mencari istri seorang wanita, tapi seorang perempuan yang memenuhi standarnya simbok tadi.
Lain lagi dengan pesan bapak.
“Wanita…, eh.. hmm… perempuan…” rupanya bapak juga lebih senang dengan sebutan perempuan daripada wanita, mungkin karena simbok itu bukan seorang wanita, tapi seorang perempuan tulen.
Lain daripada itu bapak juga punya argumentasi yang lebih canggih. Saat ini ada singkatan BTKW, yang ternyata tidak hanya kependekan dari Biro Tenaga Kerja Wanita, tetapi juga kependekan dari Biro Tukang Kerjain Wanita.
“Wong wedok kuwi nyolowagi, Le..! Sukanya bikin bingung. Nggregetke, tapi juga nyenengke!” begitu penuturan bapak disaat mentari tenggelam di ufuk barat.
“Pada dasarnya setiap wanita itu mau, Le. Tapi bila perempuan belum tentu mau. Perempuan akan mau sama kita, asalkan kita tahu. Bisa nyrateni. Tlaten. Tlaten Le ! Itulah yang bapak lakukan untuk menarik hati mbokmu dulu,” lanjut bapak sambil menghisap rokok thingwenya dalam-dalam.
Puuulll…. bussssshhhh…… Asap hitam keputihan keluar dari celah bibir bapak. Aku semakin tertarik dengan cerita bapak. Siipp !!! Dan sedikit HOT (Hanya untuk Orang Tua).
“Lalu gimana pak..?” aku bertanya ngudung dan duduk lebih mendekat di tempat duduk bapak.
Tapi sayang, bapak tidak mau meneruskan ceritanya. Katanya cerita selanjutnya hanya pantas di dengar oleh mereka yang tangannya sudah “ganduk kuping”. Dan pertanyaanku itu tak mungkin terjawab lagi, karena bapak telah pergi menyusul simbok.
Saat ini aku berfikir, bagaimana untuk mencari perempuan yang sesuai dengan standarnya simbok and bapak tadi. Tidak usah terlalu cantik, tapi mencapai target 4B ; Biso mBobot, Bekti Bojo. Tapi sulit lho cari perempuan tipe demikian. Kalau 2B yang kedua ini sangat sulit, Bekti Bojo (bakti pada suami). Apalagi saat ini emansipasi sudah benar-benar meresap dan merata. Perempuan sudah banyak yang bekerja. Untung kalau bener-bener bekerja, lha kalau dikerjain??? Apa enggak repot…???
Perempuan memang sangat misterius. Sulit untuk didekati, tapi mudah diparani. Dan kalau yang namanya perempuan sudah lengket dengan lawan jenisnya, wah… wah… sulit untuk diklethek sekalipun sudah pakai bensin…
Perempuan menganggap setiap laki-laki itu hanya mau menang sendiri. Padahal enggak !!! Dan itu mungkin yang menyebabkan perempuan sedikit malu-malu dan takut dengan laki-laki. Tapi cuma sedikit lho…. sekitar 25% sedangkan yang 75% lebih dari sekedar kendel dan langsung…….(?)
Perempuan menganggap setiap ucapan laki-laki merupakan rayuan gombal, murahan. Padahal enggak semua laki-laki begitu. Masih ada laki-laki yang penuh tanggung jawab, lemah lembut, penuh pengertian, tak suka marah dan humoris. Termasuk sampean yang sedang baca ini… Lha iya tho…????
Tapi ya… itu tadi. Perempuan sukanya nggebyah uyah. Semua laki-laki ya… tetep hanya mau menang sendiri. Tanpa kecuali. Titik..!!!
Sehingga yah.. sulit bagi sampean ini yang sifatnya tidak seperti yang dikatakan diatas untuk mencari perempuan yang belum terbius oleh pameo tadi. “Gupak Pulut ora melu mangan nangkane.”
Lain lagi dengan ceritane Pakdhe Semprul yang bekerja sebagai tukang mendring (kredit). Dia sangat berpengalaman tentang lika-likunya perempuan. Maklum…, beliau sudah 3 kali kawin, tapi baru nikah 1 kali…?!!
“Le.., perempuan itu sukanya kumpul-kumpul. Dan kalau sudah kumpul-kumpul langkah selanjutnya ngrasani.”
Begitu penuturan Pakdhe Semprul. Dan aku percaya begitu aja, karena Pakdhe Semprul lebih tahu tentang dunia keperempuanan, sebab setiap hari bergaul dengan perempuan sebagai mendring. Dan memang benar koq. Kata banyak orang, perempuan itu kalau sudah kumpul-kumpul tidak ada kegiatan lain kecuali ngrasani. Ya nggak..???
“Oh.. ya, Le. Besuk kalau kamu punya istri carilah yang perempuan, jangan yang wanita. Kalau yang namanya wanita sukanya ngutang. Hutang sama aku. Lain kalau perempuan. Kalau perempuan sukanya ngredit, begitu…??!! Kalau setiap sore aku keliling kampung, pasti menjumpai wanita-wanita yang duduk dibibir pintu dan petan-petan sambil menanti kedatanganku untuk ngutang barang lagi. Padahal utangnya yang lalu belum lunas seluruhnya. Tapi kalau perempuan tidak petan-petan. Tapi… ya cuma nyari kutu sambil menanti kedatanganku untuk ngredit barang-barang rumah tangga lainnya.”
Begitulah cerita Pakdhe Semprul seperti dosen memberi kuliah. Dan ternyata mencari perempuan itu memang lebih sulit daripada mencari wanita. Kalau mencari wanita wahhh…. banyak. Sarkem sana banyak… Terbukti kata pakar sensus penduduk, dunia ini kalau dikalkulasikan perbandingan antara laki-laki dengan wanita itu 1 : 3, artinya 1 laki-laki dan 3 wanita… Hmmmm… (iso nanjakke)
Tapi kalau cari perempuan yang sejati, wahh… sulit. Sayang yang ini belum pernah dikalkulasikan. Terbukti ada diantara sampean yang baca tulisian ini yang belum mendapatkan perempuan tipe demikian.. Iya nggak…??? (ngaku wae nek rapayu…)
Dan yang paling akhir, lain lagi dengan apa yang dituliskan di salah satu mingguan terbitan Jakarta. Mingguan tersebut berpesan agar memilih teman hidup, laki-laki harus berhati-hati. Wanita ataupun perempuan sama saja. Penjerumus, perayu, penggoda….!!! (weks.., kui omongane wong seng rapayu.)
Kita tentunya sudah tahu bahwa Caesar Antonius terpaksa berlutut di depan Ratu Cleopatra. Kemudian Lord Porfumo yang limbung dihadapan Christine Keeler. Pelawak kondang dunia Charlie Chaplin, mati juga karena bujukan dan rayuan kaum Hawa. Dan yang paling akhir kita dengar, Ferdinand Marcos harus berhadapan dengan penegak hukum kalau tidak keburu meninggal dunia, karena dituduh korupsi kas negara bermilyar-milyar akibat bujukan istrinya Ny. Imelda Marcos. Kemudian kejadian yang barusan, seorang Bapak yang duduk dikursi DPR juga harus kalang kabut dengan skandalnya dengan artis penyanyi dangdut (rasah disebut jenenge, wes do ngeri kabeh).
Begitu kata Mingguan terkenal terbitan Jakarta yang terbit beberapa tahun silam.
Dan apa kataku sendiri….
Perempuan memang misterius.
Apa sih yang kamu maui sebenarnya, hai perempuan..??
Harta aku tak punya….
Cinta baru aku bina, tapi sudah binasa karena ternyata kamu lebih suka dengan harta.
Perempuan….. perempuan…….
Kamu koq misterius banget sih…???
Sekian







