Antara Florence dan BBM

2 Sep 2014

florence-saat-mengisi-bbm-di-spbu-lempuyangan
Jika ada orang di sini yang paling dongkol pada kasus Florence Sihombing, mungkin teman kantor gw orangnya. Teman gw di ruang redaksi ini banyak menerima pertanyaan apakah si Florence itu ada hubungan keluarga dengannya. Maklum, di kantor ini cuma dia doang yang bermarga Sihombing. “memalukan marga saja” sungutnya.
Gw cuma ketawa. Gw sarankan untuk sementara ganti marga saja dulu hingga euforia mereda. Ganti Sitompul misalnya. Atau sekalian saja Bathoegana.

Sebagai teman, jauh dilubuk hati yang dalam, gw ikut prihatin. Gw ngerti perasaannya, karena sebenarnya gw juga punya ikatan emosional dengan marga Sihombing, mengingat banyak yang bilang tipikal wajah gw rada mirip Petra Sihombing. Uhuk..

Eh iya.. Sebelumnya gw ingatkan, bagi yang gak doyan baca tulisan panjang, silakan ini diskip aja, sebelum eneg. Karena gw mau ngoceh panjang kali lebar nih..

Ini tentang Florence Sihombing dan BBM. Lagi-lagi media sosial menunjukkan kekuatannya. Dalam waktu relatif singkat, Florence si ratu SPBU itu naik daun. Ulat bulu aja sampe minder padahal lebih duluan naik di daun.
Tapi banyak juga yang berspekulasi bahwa kasus Florence ini diblow-up sebagai pengalihan isu dari rencana kenaikan BBM, kebetulan kejadiannya juga di SPBU.
Buseet.. Peminat teori cocoklogi pasti demen yang beginian.

Yang pasti, isu naiknya BBM ini bakal berimbas ke naiknya suhu politik dan naiknya tensi darah. Ini bakal jadi isu terseksi untuk mengganyang presiden terpilih.
Trus kalo harga BBM jadi naik, salah jokowi? Salah teman-teman jokowi?
Jokowi gak sepenuhnya salah, meskipun gak sepenuhnya juga sempurna, karena sampe saat ini kesempurnaan tetap milik Allah, dan ketidaksempurnaan milik bunda Dorce Gamalama.

Menurut gw yang dhoif ini, kesalahan Jokowi mungkin hanya karena terpilih di saat yang salah.
Ini seperti ungkapan: Ada banyak cara Tuhan menghadirkan presiden. Mungkin engkau adalah salah satunya. Namun engkau datang di saat yang tidak tepat. Cintaku tlah dimiiiiliki.. (Eeh sorry, malah nyanyi)
Dengan kata lain Jokowi sedang ketiban apes. Padahal SBY saja udah berapa kali menaikkan BBM, hampir tiap tahun malah. Tapi doi woles aja tuh. Masih bisa bikin album pula.
Wajar saja tiap tahun BBM naik, namanya saja PERTAMINA (Pertahun Minyak Naik). Kalo tiap tahun turun kan jadinya PERTAMITU (Pertahun Minyak Turun)

Tapi gak bisa dipungkiri, kenaikan BBM otomatis dianggap menyengsarakan bagi rakyat kecil. Udah, gitu aja. Titik. Dicari dalih pembenaran atau pengalihan ke program mutakhir pun gak gampang walaupun mungkin itu sudah jadi tindakan yang tepat. Emang orang awam mau ngerti soal defisit APBN? bodo amat, ini kan urusan pemerintah.
Kalo BBM naik, kita ke mana-mana naik apa? ngesot?
Nelayan mau melaut pake apa? Pake Android?
Trus kalo menyusul minyak tanah dan gas naik, bini di rumah mau masak pake apa? pake parafin?
Dijamin ribet deh menjelaskan rakyat yang terlanjur paranoid.
Lebih ekstrim lagi keputusan menaikkan BBM ini bisa dianggap membunuh rakyat pelan-pelan dengan kebijakan terencana, dan ini secara lebay bisa digiring ke ranah hukum, Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Halah..

Kalo kata gw sih, pemerintah kurang di sense of crisis. Mestinya kemarin itu jangan dulu menghembuskan isu ini. Sekarang lihat saja dampaknya, masih berupa rencana saja yang lain malah udah curi start naik duluan, udah pada inisiatif simulasi kenaikan BBM dengan bikin hukum pasar sendiri, seenaknya saja naik-naikin harga. Gimana kalo BBM udah naik beneran, coba?
Belum apa-apa, porsi makan di warteg saja udah mulai dikurangin, tempenya jadi setipis kulit bawang, sambelnya kurang pedes, mungkin ditambah remason kali, wallahu’alam. Ayamnya bukan lagi sekadar disuntik biar gede, tapi boleh jadi dipompa pake kompresor. Isinya kebanyakan angin soalnya. Habis makan langsung begah.
Udah gitu ngambil dua biji pisang buat cuci mulut, eeh dilirik bengis ama mpok-mpok wartegnya. Hiks.. *curcol*
Ini semua imbas. Padahal kenaikan BBM ini kan masih berupa rencana. Secara tadi gw cek BBM di playstore masih gratis, tinggal direinstall aja *eh*

Menurut pakar, jika harga BBM gak naik, 3-4 tahun lagi uang APBN terancam habis untuk subsidi BBM doang. Ini juga yang dibilang pak JK beberapa waktu lalu. Banyak yang menilai ini gaya bahasa klasik yang cenderung menakut-nakuti rakyat. Gw juga sempat curiga sebenarnya, jangan-jangan BBM naik itu idenya JK. Karena kalo BBM naik, rakyat protes, terjadi demo besar-besaran, chaos, Jokowi dimakzulkan, nah.. otomatis JK yang naik jadi presiden! Haha.. ngawur.. Jangan diambil hati yak..

Tapi kalo mau mikir logis, BBM memang gak perlu naik sih. Pemerintah mestinya bisa lebih kreatif dan mau direpotkan urusan ini. Secara teori, banyak celah untuk menyelamatkan APBN dari defisit tanpa pencabutan subsidi. Tinjau ulang prosentasi BBM untuk kebutuhan dalam negeri dan untuk ekspor yang selama ini gak balance. Sektor pajak juga kan belum maksimal pemasukannya, miskinkan aja tuh para pengemplang pajak. Begitu juga royalti tambang, selama ini kita lebih banyak cuma dapat jejak crop circle-nya ketimbang masuk ke kas. Anggaran hajatan pemilu juga keterlaluan morotin uang rakyat, padahal ujung-ujunganya ribet di MK juga.

FYI, di daerah gw, anggaran pelantikan anggota DPRD setingkat Kabupaten saja mencapai angka 500 juta per kabupaten, ini hanya untuk sehari seremoni loh ya. Bayangkan gimana dengan pelantikan DPR Pusat? Padahal kalo mau mengedukasi rakyat tentang pola hidup sederhana harusnya budgetnya itu bisa ditekan, gak usah meriah lah, kasian uang rakyat. Konsumsinya nasi kucing juga bisa. Gak perlu tersinggung, masih mending dianggap kucing, daripada dianggap tikus kan lebih identik dengan koruptor.
Biar gak kaku, anggarkan sewa penyanyi elekton atau organ tunggal, beres. Atau sekalian aja panggil gerobak dangdut. Mau joget, joget dah tuh anggota dewan biar tambah keliatan merakyatnya. Pelantikan kan cuma formalitas.
Nah, trus itu pin emas 10 gram per-orang buat anggota dewan, sumpah gw gak ngerti korelasinya apa dengan kinerja. Ini secara gak langsung melecehkan akal sehat kita yang masih waras. Belum kerja saja udah dikasih hadiah. Ini budaya konyol. Jadi jangan heran kalo APBN dan APBD cepat ludes.

Pemerintah berdalih suku bunga naik karena bunga utang yang digunakan untuk bayar subsidi BBM orang kaya, jadi subsidi BBM harus dicabut. Lah, kenapa gak buat regulasi ketat soal pengawasan terhadap mobil pribadi? Kalo mau serius, pengguna mobil pribadi tegaskan haram pake BBM subsidi, dengan begitu mereka mikir juga kalo mau keluar untuk urusan gak penting. Selain menyelamatkan anggaran trilyunan dan gak perlu berujung kas bon ke IMF, masalah kemacetan juga kan sedikit teratasi.
Solusi ini sebenarnya sedikit disusupi muatan sirik dari pengendara motor yang gak sanggup nyicil mobil. Hiks..

Tapi, kita mau ngomong apapun, percayalah BBM tetap akan naik. Ini keniscayaan yang udah dicatat di Lauh Mahfudz. Kita tinggal persiapkan diri menyambut dengan spanduk marhaban.
Pepatah bijak mengatakan “Dont rich people difficult”, yang artinya jangan kaya’orang susah.
Mari kita cari hikmah di manapaun si hikmah ngumpet. Bahwasanya kalo BBM gak naik, maka gak ada motivasi nyari duit lebih giat. Dan kalo BBM gak naik artinya banyak orang yang gak menyadari kalo pendapatannya pas-pasan. Gak usah jauh-jauh ngambil sampel. Kayak gw ini misalnya.
Ya walaupun bagi pekerja ekonomi kreatif, pedagang, dan jasa sebenarnya gak terlalu masalah, tinggal naikkan harga jual juga beres.

Jadi sekarang terimalah kenyataan ini. Kebijakan sudah digodok, nasi sudah menjadi bubur. Bubur dijual, tukangnya naik haji.
Anggap saja BBM naik itu Takdir, dan gak bisa beli BBM itu Nasib. Yang perlu diubah bukan takdirnya tapi nasibnya.
Revisi mindset: jangan demo kenaikan BBM, tapi demolah kenaikan UMR.
Apalagi demo BBM sambil bawa-bawa foto Bung Karno. Oh, jangan..

Kebijakan kenaikan BBM sebaiknya gak perlu ditunda-tunda kalo ujung-ujungnya pasti naik juga. Kalo terus ditunda, ntar bakal menciptakan generasi moratorium, ini gak bagus juga. Cukuplah kelanjutan hubungan asmara yang dimoratorium mulu, gak usah yang lainnya. Eeeaaa..
BBM naik memang menyakitkan. Tapi sebenarnya ada yang lebih menyakitkan dari itu, yaitu BBM yang pending, atau BBM yang sudah R tapi gak dibalas. Eeeeaa lagi..

Akhirulkalam, postingan mbulet ini ditulis masih dengan nyambi ngayun anak, as usual. Tapi kali ini pake tambahan senandung:

“BBM naik tinggi, susu gak usah beli. Orang pintar tarik subsidi, bini gw mompa ASI”

ditulis kembali dari siomponk.com


TAGS Florence BBM SPBU SPBU Lempuyangan Jokowi Florence Sihombing


-

Author

Herry Rachman
@imherry
me on www.siomponk.com

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive