Umpan Manis AHOK Akhirnya Dimakan Juga

24 Jul 2013


Akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa ada sebuah lembaga swadaya masyarakat yaitu Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) “mengkritisi” soal aksi blusukannya yang mendapat alokasi anggaran dalam jumlah besar, yaitu Rp 26,6 miliar.

Sedangkan dari pihak Jokowi sendiri menanggapinya dengan santai. “Boros apa. Blusukan itu enggak pernah pakai anggaran, blusukan itu modalnya hanya jalan kaki, enggak ada yang lain,”.

Lebih lanjut ia juga membantah aksinya itu sebagai wujud pencitraan politis demi mendapat dukungan masyarakat. “Yang dicitrakan itu apanya? Lah wong kita ke kelurahan, kecamatan cuma untuk mengecek doang, enggak pakai dana apa-apa.”

Lain halnya dengan Ahok yang menilai serangan soal blusukan Jokowi politis.

“Saya membaca ini ada ketakutan dari gaya blusukan Pak Jokowi. Mungkin capres lain nggak bisa nyontek. Pak Jokowi kan memang gayanya begitu,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta.

Komentar Ahok itu dipicu FITRA yang membuka anggaran blusukan Jokowi, kemudian membandingkannya dengan anggaran era Fauzi Bowo.

“Pak Jokowi nggak pernah ngomongin soal capres, tapi kok orang-orang pada takut, saya bingung,” kata mantan Bupati Belitong Timur itu.

Umpan dari AHOK pun akhirnya “disambut” oleh Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua yang mengkritik Ahok jangan membawa masalah anggaran ke ruang politik.

“Apa yang dikritisi Ahok kok bisa lari ke masalah politik? Kalau mau mengkritik ya tentang anggarannya saja, benar nggak anggaran itu, nggak usah dibawa-bawa ke politik,” kata Max Sopacua.

“Itu kritikan Fitra persoalan anggaran blusukan, nggak ada kaitanya dengan elektabilitas capres,” ucap anggota komisi I DPR itu. Suruh aja ahok terjemahkan maksud FITRA apa, itu kan pengawasan anggaran. Ya nggak usah dibawa-bawa ke politik. Apa emang hebatnya Ahok (bawa ini ke masalah politik)?” imbuhnya.

Nah, dari keterangan-keterangan diatas saya bisa mengambil beberapa kesimpulan
1. FITRA mungkin adalah suruhan dari suatu Parpol yang tidak menyukai Jokowi.
2. Ahok tidak menyebutkan partai mana yang takut terhadap Jokowi jika Jokowi maju Capres, tapi ada orang yang “kebakaran jenggot” dengan ucapan Ahok.
3. Yang mempolitisi pertama bukannya FITRA, yaitu yang mem-publish hasil survernya yang ngga jelas kepada publik. Kenapa giliran pak Ahok menjawab dengan politisi juga tidak boleh? Bukannya seharusnya pihak FITRA langsung datang ke kantor kemudian menanyakannya langsung?

Saran saya sih Jokowi - Ahok jangan dilibatkan dengan hal-hal yang bukan pekerjaannya. Karena Jokowi - Ahok adalah Gubernur dan Wakil Gubernur DKI jadi ya hanya ngurus DKI saja.

Maaf, jika ada kata-kata saya yang salah

(sumber berita dari detik.com)


TAGS Jokowi Fitra Ahok Opini Opinion


-

Author

Herry Rachman
@imherry
me on www.siomponk.com

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive